Sudah jadi tugas saya beberapa bulan ini buat ngambil pensiun eyang saya di Bank BTPN. Jadi seperti bulan - bulan sebelumnya, pagi tadi saya ke Bank BTPN. Suasanya bank tadi pagi lumayan ramai jadi saya diharuskan mengambil nomor antrian. Setelah mengambil nomor antrian, saya mendapat nomor 206 sedangkan dari 4 loket yang dibuka baru menunjukkan nomor antrian 164, 40 orang lagi.
Menunggu kurang lebih 30 menit, akhirnya nomor antiran saya dipanggil. Menuju loket nomor 3 saya serahkan fotokopi surat kuasa beserta surat - surat lain yang diperlukan untuk mengambil pensiun eyang saya. Tapi si petugas loket 3 malah meminta saya untuk mengautorisasi surat - surat tersebut di loket 2. Maka saya pindah ke loket 2 dan menyerahkan surat - surat tersebut.
"Silahkan duduk mba, nanti saya panggil." begitu kata petugas loket 2.
Saya mencari tempat duduk yang tidak jauh dari loket 2 agar bisa mendengar panggilan dari si petugas loket 2 itu. Beberapa menit kemudian datang seseorang dengan kasus yang sama dengan saya, si petugas mempersilahkan duduk orang itu tadi. Tak lama ada seseorang lagi yang datang, seperti menanyakan sesuatu kepada si petugas loket 2, hingga mereka agak lama berbincang. Beberapa orang lagi juga datang ke loket 2 entah betanya atau mengalami kasus yang sama dengan saya.
Saya pikir, kapan pekerjaan si loket 2 ini akan selesai kalau semua orang sibuk bertanya dan menyerahkan surat - surat tanpa mengantri terlebih dahulu. Saya putuskan untuk mendatangi si petugas loket 2 dan bertanya apa dia masih membutuhkan waktu untuk mengautorisasi surat-surat saya. "Sebentar ya, mba silahkan duduk nanti saya panggil." itu jawabnya. Saya lihat nomor antrian sudah menunjukkan angka 220, artinya saya sudah 14 orang melewati antrian saya.
Ketika nomor antrian menunjukkan angka 226, si petugas loket 2 akhirnya selese mengautorisasi surat-surat saya dan kini dia meminta saya untuk mencari loket kosong untuk mengambil uang pensiun. Saya pikir tidak akan pernah ada loket kosong dan nomor antrian saya yang sudah terlewat sedari tadi, mungkin maksud si petugas loket 2 ini saya harus memotong antrian orang untuk bisa mengambil uang pensiun tadi.
Maka saya putuskan mengantri di loket 5. Si petugas tampak sibuk lalu berkata "Mba cari saja loket yang kosong." Ingin sekali saya jawab "Pale lo somplak, kagak liat semua loket penuh ya!" Tapi saya urungkan niat itu dan pindah ke loket 6.
Si petugas loket 6 tampak masih sibuk melayani seorang ibu tua. "Tunggu sebentar ya mba." kata si petugas loket 6.
Selesai melayani si ibu tua tadi, petugas loket 6 memanggil saya. Mengurus semua surat - surat saya dan akhirnya mencairkan uang pensiun eyang saya. Tepat saat semua uruan itu beres, nomor antrian menunjukkan nomor 236 dan saya berada di Bank BTPN lebih dari 1 jam.
Buat saya prosedur Bank BTPN ini rada kacau. Kacau karena kurangnya informasi yang diberikan kepada pelanggan. Kasus pengambilan pensiun dengan surat kuasa kan ga cuma dilakukan oleh satu atau dua orang. Jadi seharusnya Bank BTPN itu menyediakan loket tersendiri untuk autorisasi surat-surat untuk pengambilan dengan surat kuasa itu tadi. Atau setidaknya ada yang memberi arahan dan memberi informasi apa yang harus dilakukan. Karena tidak semua orang akan paham prosedur pengambilan pensiun dengan surat kuasa ini. Apa lagi orang yang baru pertama kali.
Saya rasa, percuma saya mengantri dari nomor 164 kalau akhirnya waktu giliran nomor antrian saya, saya masih harus mengantri untuk autorisasi. Saya pikir proses autorisasi di Bank BTPN ini juga kurang efektif. Orang tidak mengantri dan petugas tidak konsentrasi dalam bekerja karena selalu ditanya dan harus menerima surat-surat dari pelanggan. Seharusnya proses autorisasi juga diberi nomor antri, Nah ketika selesai mengantri di loket autorisasi barulah pelanggan diberi nomor antri untuk mencairkan uang pensiun.

Mengapa tidak terpikirkan oleh PTPN tersebut untuk autocredit ya ? sudah diusulkan ?
ReplyDeleteHehe, memang Bank BTPN itu bukan bank yang profesional, jangankan urusan nasabah pensiunan. orang karyawannya sendiri aja tidak jelas nasibnya, bapak2 ibu2 yang ambil pensiunan di BTPN sebaiknya pindah aja di kantor pos, karena saya sendiri sebagai mantan karyawan juga menjadi korban dari manajemen. apalagi mau melayani bapak2 ibu2 yang sudah tua, orang saya saja yang bekas karyawan bank tidak bermutu itu aja emosi setiap hari
ReplyDelete^wah parah jg klo kayak gitu..:o
ReplyDeleteparah sekali... saya yang membacanya saja kesaal,, >,<
ReplyDeletesabar gan. namanya juga indonesia..hahaha
ReplyDeletesalam blogger
ReplyDelete:) hehehe maaf ya mbak kalau pelayanannya buruk..tapi setau saya bagian pensiunnya sudah mulai mengubah tata caranya..cuma ya bertahap ya dikit2..
kalau mau nggak ngantri jangan pas awal bulan ambil uang pensiunnya...lebih ga antri kalau disetelah tanggal 10 gitu
@pak parasmin maaf pak bapak juga berkomentar kurang baik diblog saya beberapa waktu lalu..kalau bapak tidak puas dengan manajemen silahkan protes hehehe
saya sebagai org dri manajemen lama juga merasakan hal itu.tapi yah sdh sabar aja ya pak..semangath dam selamat berpensiun :)
pindah aja cari bank lain.. biar tau rasa bagaimana cara menghargai pensiunan dan pegawai outsourch nya..
ReplyDelete